April 16, 2026
IMG-20250814-WA0011~2
Curhat Keluarga Pasien Paksa Dokter Buka Masker

TNGVOTE- Sebuah video berdurasi 41 detik yang memperlihatkan keluarga pasien memaksa seorang dokter membuka masker di ruang perawatan RSUD Sekayu, Sumatera Selatan, menjadi sorotan publik dan viral di media sosial.

Di balik ketegangan yang terekam, tersimpan kisah penuh emosi dari dua sisi keluarga pasien yang merasa kecewa dan dokter yang berpegang pada protokol medis.

Ismet Syaputra, keluarga pasien yang terekam dalam video, mengaku emosinya memuncak bukan tanpa alasan.

Ibunya, yang dirawat akibat diabetes komplikasi di ruang VIP, dinilainya tidak mendapat pelayanan yang sepadan dengan status perawatan umum berbayar.Baginya, kejadian itu bukan sekadar ledakan emosi sesaat, tapi akumulasi dari pelayanan yang dinilainya jauh dari harapan.

“Kami datang hari Jumat, rujukan dari Klinik Smart Medica.Ibu saya dirawat karena diabetes komplikasi.

Kondisinya membaik, sadar, demam turun, gula darah stabil setelah dirawat di RSUD Sekayu.

Tapi kami diminta menunggu dokter sampai hari Selasa,” tutur Ismet, Rabu (13/8/2025), mencoba menahan kecewaIsmet merasa, penundaan itu mengancam kesehatan sang ibu.

“Kalau VIP saja pelayanannya seperti ini, apa bedanya dengan BPJS,” tambahnya.

Puncak kekecewaan Ismet terjadi saat ia mengetahui bahwa hasil pemeriksaan dahak sang ibu sudah tersedia sejak Sabtu, namun baru ditindaklanjuti pada hari Selasa.

“Bagaimana saya bisa bersabar melihat ibu saya terbaring sakit.Saya tersulut emosi dan meminta dokter melepas masker untuk memastikan beliau benar dokter atau bukan,” ungkapnya dengan nada yang masih menyimpan amarah.

Apa yang terjadi selanjutnya menjadi momen paling dramatis dalam peristiwa itu.

Sorotan kamera menangkap bagaimana tangan keluarga pasien mencoba membuka masker sang dokter secara paksa—sebuah tindakan yang menuai kecaman luas dari publik.

Ismet, dalam keterangannya, berharap kejadian ini menjadi evaluasi besar bagi manajemen rumah sakit.

“Kalau statusnya VIP, mestinya penanganan dan fasilitasnya juga maksimal, bukan malah menunggu berhari-hari,” tegasnya Penjelasan Dokter Namun, di balik kejadian itu, dokter yang menjadi sasaran emosi, dr Syahpri Putra Wangsa, punya alasan kuat mempertahankan maskernya.

Menurutnya, pemakaian masker adalah Standar Operasional Prosedur (SOP) karena hasil pemeriksaan menunjukkan indikasi TBC pada pasien.

“Masker wajib digunakan demi keamanan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Saya sudah jelaskan, tapi keluarga tetap memaksa,” ungkap dr Syahpri.

Ia menegaskan, kehadiran dokter spesialis tidak bisa setiap saat berada di rumah sakit, terutama saat akhir pekan.

“Perawat dan dokter jaga yang menangani sementara, itu prosedurnya,” jelasnya.

“Saya meminta keluarga pasien bersabar dan menjelaskan alasan tetap memakai masker.

Kenapa saya memakai masker, karena dari hasil rontgen dan radiologi ditemukan bercak pada paru-paru pasien yang diindikasikan TBC, salah satu penyakit yang sulit ditangani.

Pemakaian masker itu SOP pemeriksaan indikasi penyakit TBC,” ujarnya, menekankan pentingnya protokol medis.

Tapi suasana semakin memburuk.Melihat ketegangan yang mengarah ke intimidasi fisik, dr Syahpri segera mengambil langkah antisipatif.“

Dalam perjalanan medis, kami sering mendapat ancaman, jadi perlu antisipasi.Keluarga pasien tetap meminta saya melepas masker, saya bilang kalau buka masker di luar saja sesuai SOP.

Tapi mereka tetap memaksa dan melepas masker saya,” kisahnya.Merasa keamanan tenaga kesehatan terancam, ia pun segera meminta pengamanan.

“Saya minta petugas keamanan untuk menjaga perawat karena saat itu masih emosi, saya khawatir terhadap adik-adik nakes yang semuanya perempuan,” tutupnya dengan nada prihatin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *