Kebohongan pedagang es kue ke Dedi Mulyadi, ngaku tidak dapat bantuan hingga nunggak sekolah negeri
Jajat Suderajat (50) ketahuan membohongi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Jajat mengaku belum bayar banyak tunggakan sekolah dan kontrakan.
Bahkan dia juga mengaku belum mendapat bantuan apapun.
Nama Suderajat menjadi perbincangan setelah dihardik Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo di Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat pada Sabtu (23/1/2026).
Ia dituduh menjual es kue yang terbuat dari spons.
Namun berdasarkan hasil pemeriksaan Tim Dokkes, es kue yang dijual Jajat aman dikonsumsi.
“Bukan jadi untung, jadi buntung,” kata Jajat ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
KDM (Kang Dedi Mulyadi) lantas mempertanyakan soal motor yang diberikan Kapolres Metro Depok Kombes Abdul Waras.
“Tapi kan sudah jadi untung bapak dapat motor,” kata Dedi.
“Hah ? buat anak,” jawab Jajat.
Suderajat mendapat sejumlah bantuan dari banyak pihak.
Pemerintah Kabupaten Bogor memberi logistik makanan, memproses kepersertaan BPJS, bahkan rumahnya direnovasi.
Meski sudah dapat motor, hingga renovasi rumah namun Suderajat belum mendapat bantuan apapun.
“Tapikan bapak juga yang dapat,” kata Dedi.
“Bapak yang dapat tapi gigit jari, buat anak semua. Gak ada yang bantu,” kata Jajat.
KDM lalu mengingatkan bahwa ia telah mendapat bantuan motor.
“Udah dapat motor, bapak jangan ilang-ilangin,” kata KDM.
“Buat anak itu,” katanya.
Jajat bahkan curhat merasa sedih karena sejak kejadian Sabtu, ia belum berdagang lagi selama empat hari.
Ia mengatakan akibat tidak berdagang kini tak memiliki pemasukan untuk bayar tunggakan sekolah anak dan kontrakan.
“Kita mau nangis belum bayar kontrakan, bayar sekolah. Rp 1,5 juta,” katanya.
Dedi Mulyadi lantas merasa heran karena tunggakan yang disebut Jajat begitu besar.
“Kok gede banget ?” tanya KDM.
“Udah 4 bulan gak bayar-bayar,” katanya.
Padahal sebelumnya Jajat mengadukan bahwa anaknya sekolah di sekolah negeri namun tetap dipungut bayaran sebanyak Rp 200 ribu setiap bulan.
“Katanya sebulannya Rp 200 ribu. Harus dipastiin dulu. Saya yakin bukan sekolah negeri. Gak mungkin sekolah negeri SD bayar 200. nanti saya cek deh sekolah,” katanya.
Ketika ditanya ulang, Jajat justru mengatakan tunggakan bukan selama empat bulan, melainkan hanya satu bulan.
“Udah sebulan,” katanya.
“Bapak ini 4 bulan apa sebulan belum bayarannya ?” tanya KDM.
Jika memang hanya sebulan, berarti tunggakan Jajat harusnya Rp 200 ribu.
Dari situlah Dedi mengingatkan Jajat untuk bicara secara jujur padanya.
“Jangan ngarang, gimana. Kalau ingin hidup maju harus jujur, kalau kitanya tidak jujur nanti banyak dapat susah dalam hidupnya,” katanya.
Meski begitu Suderajat tetap meyakinkan Dedi bahkan dia memang menunggak bayaran sekolah.
“Saya aja diomelin sama gurunya, ‘mana ? mana duitnya ?” katanya.
Dedi Mulyadi menekankan bahwa tidak ada sekolah negeri di Jawa Barat yang dipungut biaya.
“Udah cek kalau sekolah negeri nanti ngomong sama bupatinya (Rudy Susmanto). Masa sekolah negeri bayaran. Kalau swasta juga tidak wajib bayar kalau tidak mampu,” katanya.
Selain nunggak bayaran, Jajat mengaku belum bayar kontrakan.
Di awal dia mengaku membayar kontrakan sebesar Rp 850 ribu per bulan.
“Kontrakan empat bulan belum bayar-bayar,” katanya.
“Kali 800. Berapa 800 kali empat ?” tanya Dedi.
“Itung aja sama bapak,” kata Jajat.
“Lah bapak ini gimana,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Bogor memberi bantuan renovasi rumah tidak layak huni pada Suderajat pedagang es kue.
Selama rumahnya direnovasi, ia tinggal di kontrakan.
